Sebelum kita mengetahui penanganan dari hama ini, alangkah baiknya kita mengetahui gejala-gejala yang timbul. Hama ini umumnya berkembang di musim kemarau, sedangkan saat musim hujan, populasinya akan berkurang karena air hujan membersihkan thrips yang ada.

Hama ini menyerang daun-daun muda bagian bawah dengan cara menghisap cairannya, tandanya adalah adanya bercak putih. Daun-daun yang terserang umumnya akan mati dengan ditandai perubahan warna pada daun menjadi coklat lalu mengeriting atau keriput dan akhirnya mati.

Hama ini bisa berdampak lebih berat yaitu menyebabkan pucuk menggulung ke dalam dan muncul benjolan seperti tumor. Tanaman cabaipun akan kerdil karena terhampat pertumbuhannya, bahkan ada sebagian kasus yang pucuk tanamannya menjadi mati.

Untuk pengendalian hama ini, ada beberapa cara:
– Kultur teknis
Salah satu cara agar tanaman tidak terserang thrips adalah dengan tidak menanam tanaman inang. Penggunaan mulsa plastikpun bisa dilakukan yang dikombinasikan dengan perangkap, selain itu malsa plastik juga bisa digunakan untuk mencegah infeksi kutu daun. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan memusnahkan bagian tanaman yang terserang hama tersebut.
– Fisik mekanis
Penggunaan perangkap likat yang dipasang saat tanaman berumur 2 minggu. Perangkap dipasang 40 buah/ha atau 2 buah/500m2. Perangkat dibuat daripotongan peralon dengan diameter 10cm dan panjang 15cm yang diberi cat putih atau biru. Setelah itu diberi lem kayu yang diencerkan atau bisa juga vaselin lalu digantung diatas tanaman cabai.
– Hayati
Anda juga bisa memanfaatkan musuh alami untuk membasmi hama tersebut antara lain kumbang coccinellidae, tungau dan masih banyak lagi.
– Kimiawi
Bahan kimia hanya digunakan jika penyerangan hama sudah mencapai ambang batas (15% per tanaman).